Akhirnya impian saya kesampean juga, Alhamdulillah :) Allah Maha Pengasih dan Pemurah, 'Memintalah, maka Aku akan mengabulkan' Amiin :)
Saya berangkat pada tanggal 14 October dari Pekanbaru, dengan psawat GA tujuan Jakarta, kemudian dengan Turkish Airline saya menuju Attaturk air port melalui transit di Singapore.
Alhamdulillah di tanggal 15 saya sampai dengan selamat namun dengan perut luar biasa lapar ( Turkish airline menyediakan makanan khas Turkey yang cukup aneh di lidah saya, such as : daging mentah, nasi keras, tahu mentah, dan temen temennya ) satu satunya pengganjal di perut saya hanyalah bagian desert, dan secangkir air hangat.
Sebagai orang Indonesia yang jarang travelling, apalagi ini baru pertama saya jalan ke luar negeri, yang ada di benak saya jika jalan adalah pilihan makanan unik dengan rasa luar biasa enak. tapi apa yang terjadi ? Gosh...
berada di Turki tepatnya di Istanbul yang berada di antara 2 benua itu, saya berfikir, its Ok, masih ada aroma makanan asia, yang notabene condong ke Eropa, dan makanannya ternyata khas Timur Tengah, rempah rempah nya berasa banget, baunya terasa menyengat dan sangat asing di hidung saya :( harapan untuk makan enak, bablas :(
Anyway, untung kekecewaan saya terbayar dengan indahnya panorama di selat Bhosporus. Flat suami saya berada di daerah Taksim, merupakan bagian Eropa dari Selat Boshporus. sebenarnya tempat nya sedikit crowded di banding di lokasi lain, hanya di sini cukup aman, ada banyak polisi yang berjaga dan makanan fastfood juga banyak tersedia ( maklum, pilihan yang bisa saya makan cuma fastfood saja :) ), dan kata temen satu pesawat saya ( Turkish ) Taksim cost living nya lebih mahal, iya sih.. telur satu biji yang kecil ( bukan telur ayam ) itu seharga IDR1,900.
untuk transportasi kami banyak menggunakan Trem, pernah juga sekali kali naik Subway, dan Bus.
*menuju Subway, kemiringan tangga berjalan ini hampir 90 derajat,
saya sendiri lebih senang menggunakan Bus, karna bisa menikmati pemandangan, sekaligus merasakan naik turunnya jalanan Istanbul. Yang paling indah ketika menyebrangi Selat Boshporus melalui kapal, luar biasa indah, suasana dan cuaca yang dingin membuat hati semakin syahdu, dan semakin mencintai pasangan kita :)
semangat untuk jeprat jepret juga semakin menggila, ini salah satu nya
*diatas kapal menuju Istanbul bagian Asia
Di seberang selat Boshporus , pada bagian Benua Asia, kita bisa menjumpai cabai, itu juga pada penjual tertentu dan tentu hanya ada di pasar traditional nya. cabainya berupa cabai rawit yang besarnya sama seperti cabai merah disini. belinya satu ikat, cabai mash berada utuh pada batang dan akarnya,, sayang saya lupa untuk memotonya.
Makanan disana cukup mahal, sangat mahal actually :), ketika kita coba makan di salah satu restaurant yang ada dipinggir selat, dengan menu standar, ayam sepoting kecil, sedkit french fries, nasi putih keras ( nasi disana agak susah kalopun ada yang jual, nasinya bukan pulen, tapi keras jadi berasa belum masak ), saat dimakan, rasanya standard, dan harganya executive,, hehe IDR 150,000 lebih , hmmm.
Petualangan selama kurang lebih 10 hari membuat saya belajar banyak hal, berada jauh di negeri orang, seindah Surga sekalipun, hujan uang sekalipun, masih jauh lebih enak hujan air di negeri sendiri :)
Tanggal 25 October saya kembali ke tanah air bersama suami tercinta.
Rindu pada Zahran, anak kami yang terGanteng sedunia :D
Terimakasih kepada teman teman di Istanbul yang dengan suka rela menjadi relawan untuk mengambil foto kami berdua, kalo tidak rasanya semua foto hanya berisi saya sendiri saja.. hehe.
NP : ada banyak foto yang sudah saya capture di beberapa lokasi favorite di Istanbul, seperti Hagia Sofia, Benteng Pertahanan Constantinople, Topkapi Palace, dll, silahkan cekbebicek di FB saya ya :)
Love my Abi and Son
Saya berangkat pada tanggal 14 October dari Pekanbaru, dengan psawat GA tujuan Jakarta, kemudian dengan Turkish Airline saya menuju Attaturk air port melalui transit di Singapore.
Alhamdulillah di tanggal 15 saya sampai dengan selamat namun dengan perut luar biasa lapar ( Turkish airline menyediakan makanan khas Turkey yang cukup aneh di lidah saya, such as : daging mentah, nasi keras, tahu mentah, dan temen temennya ) satu satunya pengganjal di perut saya hanyalah bagian desert, dan secangkir air hangat.
Sebagai orang Indonesia yang jarang travelling, apalagi ini baru pertama saya jalan ke luar negeri, yang ada di benak saya jika jalan adalah pilihan makanan unik dengan rasa luar biasa enak. tapi apa yang terjadi ? Gosh...
berada di Turki tepatnya di Istanbul yang berada di antara 2 benua itu, saya berfikir, its Ok, masih ada aroma makanan asia, yang notabene condong ke Eropa, dan makanannya ternyata khas Timur Tengah, rempah rempah nya berasa banget, baunya terasa menyengat dan sangat asing di hidung saya :( harapan untuk makan enak, bablas :(
Anyway, untung kekecewaan saya terbayar dengan indahnya panorama di selat Bhosporus. Flat suami saya berada di daerah Taksim, merupakan bagian Eropa dari Selat Boshporus. sebenarnya tempat nya sedikit crowded di banding di lokasi lain, hanya di sini cukup aman, ada banyak polisi yang berjaga dan makanan fastfood juga banyak tersedia ( maklum, pilihan yang bisa saya makan cuma fastfood saja :) ), dan kata temen satu pesawat saya ( Turkish ) Taksim cost living nya lebih mahal, iya sih.. telur satu biji yang kecil ( bukan telur ayam ) itu seharga IDR1,900.
untuk transportasi kami banyak menggunakan Trem, pernah juga sekali kali naik Subway, dan Bus.
*menuju Subway, kemiringan tangga berjalan ini hampir 90 derajat,
saya sendiri lebih senang menggunakan Bus, karna bisa menikmati pemandangan, sekaligus merasakan naik turunnya jalanan Istanbul. Yang paling indah ketika menyebrangi Selat Boshporus melalui kapal, luar biasa indah, suasana dan cuaca yang dingin membuat hati semakin syahdu, dan semakin mencintai pasangan kita :)
semangat untuk jeprat jepret juga semakin menggila, ini salah satu nya
*diatas kapal menuju Istanbul bagian Asia
Di seberang selat Boshporus , pada bagian Benua Asia, kita bisa menjumpai cabai, itu juga pada penjual tertentu dan tentu hanya ada di pasar traditional nya. cabainya berupa cabai rawit yang besarnya sama seperti cabai merah disini. belinya satu ikat, cabai mash berada utuh pada batang dan akarnya,, sayang saya lupa untuk memotonya.
Makanan disana cukup mahal, sangat mahal actually :), ketika kita coba makan di salah satu restaurant yang ada dipinggir selat, dengan menu standar, ayam sepoting kecil, sedkit french fries, nasi putih keras ( nasi disana agak susah kalopun ada yang jual, nasinya bukan pulen, tapi keras jadi berasa belum masak ), saat dimakan, rasanya standard, dan harganya executive,, hehe IDR 150,000 lebih , hmmm.
Petualangan selama kurang lebih 10 hari membuat saya belajar banyak hal, berada jauh di negeri orang, seindah Surga sekalipun, hujan uang sekalipun, masih jauh lebih enak hujan air di negeri sendiri :)
Tanggal 25 October saya kembali ke tanah air bersama suami tercinta.
Rindu pada Zahran, anak kami yang terGanteng sedunia :D
Terimakasih kepada teman teman di Istanbul yang dengan suka rela menjadi relawan untuk mengambil foto kami berdua, kalo tidak rasanya semua foto hanya berisi saya sendiri saja.. hehe.
NP : ada banyak foto yang sudah saya capture di beberapa lokasi favorite di Istanbul, seperti Hagia Sofia, Benteng Pertahanan Constantinople, Topkapi Palace, dll, silahkan cekbebicek di FB saya ya :)
Love my Abi and Son





