Rabu, 28 Maret 2012

Japan ? ...

Haduh, ngeliat itu foto BuIbu yang di Japan jadi ngilernya ampyun deh. Pasti enak bener tinggal di Negara yang punya musim salju dan musim semi. Huhuyy, seru, apalagi tinggal bareng sama suami dan anak.


Tapi loh ya, ini masalah masa depan yang ga segampang itu mutusinnya, bukan hanya ngeliat Japan yang keren, asyik, seru, trus jadi latah pengen ikut. Besok Resign ahh..

Duh ya, ini mengenai rezki dunia akhirat.. hiks. Kalo saya melepas status kerjaan sekarang, saya terancam membuang rezki ‘lucky’ yang dengan tidak mudah saya dapet. Nnah loh, ga semua loh bisa masuk perusahaan besar ABB ini, apalagi bisa jadi permanent dan menikmati segala fasilitasnya.. aduh hay.. saya cinta sekali ternyata sama perusahaan ini, tapi ya masak iya harus ngalahin rasa cinta saya pada suami ?

Bulan lima nanti, usia pernikahan sudah masuk usia 3 tahun. Masih umur jagung!

Saya yang dengan suami dulunya kenal singkat dan memutuskan untuk segera menikah, tentu saja ada buanyak sekali hal yang saya sendiri terkadang masih belum mengenal suami luar dalem. Lah wong, klo saya rada rada melankolis, ulang tahun pengennya kasih surprise yang bisa buat pasangan senang, dan merasa tersanjung, suami saya sepertinya lempeng lempeng aja menyikapi moment moment setahun sekali itu :( . Lah emang terkadang menikah kan seperti itu, kalo kata Mas Ippho “setiap pasangan itu biasanya seimbang, satu lebih kuat otak kanannya, yang satu lebih kuat otak kirinya” jadi ya memang saling melengkapi. Nnah, kalo ada hal hal yang tidak selaras, terima lapang dada. Wong Suami adalah ladang amal terbesar kita untuk bisa dapetin tiket menuju surga. Amin :)

Kembali ke Japan, semakin hari, hati saya semakin ragu untuk menentukan pilihan.

Dulu juga begini. Ngoyo pengen ikut suami ke Turkey, terpesona ama keindahan kotanya yang luarrr biasa keren, ngiler ama sarung tangan serta sepatu bot nya yang lucu lucu itu, pengen icip icip apartment nya Istanbul, pengen pegang langsung merpatinya taksim square, lah begitu landing di Taksim, kok ya lebih enak hujan air di Indonesia dari pada hujan emas sekalipun di Negara orang.

Dari dulu ragu, klo tanya orang, ini dan itu jawabannya,, pastinya ada pro dan kontra. Klo Tanya ke Ibu tercinta, dia mendukung sekali anaknya resign, bukan karena akan menjadi istri yang baik (karena ikutin saran suami), tapi lebih kepada “Ini loh, anak saya sekarang sedang ada di Japan sama suaminya” yang pastinya ada securut kenikmatan yang ngalir dalem ati kalo ngomong ke sodara sodara ( Understood Mom, mmuach ). Tapi kan ya ga sesimple itu, ada sahabat juga yang dulu kekeuh support, “kamu kan kalo bosen bisa ambil kulian online, jadi jangan takut bosen laah “ , yaah, klo ngikutin kata kata orang sih ada bener nya. Kadang mau lebih bijaksana , ngikutin kata hati yang paaaaling dalem, tapi tetep aja dengernya dua suara “ urus suami / resign, atau kerja/suami tetap terurus ? “ bingung kan ? nnah iya. Bingung.

Klo sudah punya anak kan ada banyak hal yang harus di pertimbangkan, apalagi dengan type wanita yang kurang mandiri seperti saya ini, mau urus diri sendiri aja dlu kewalahan loh, apalagi mau ngurus dua lelaki plus diri sendiri! Apakah nanti saya bisa masuk RS, karena terlalu lelah meladeni keluarga..

Haduh, jadi kemana mana ngawurnya ..

Yang jelas, kalo ada niat, Insya Allah semua bisa, dan pasti bisa.

Hanya… saya sudah ada niat belum ngurus suami dan anak ?

Atau…

Masih pengen happy happy ngurusin kerjaan dan tetek bengek para Engineer kantor ? nnah loh!..



@Office 02:33PM

Bday!

Hari ini genap usia saya 28 tahun,


Tanpa lilin, tanpa kue, tanpa ada suami di samping saya :(

Tidak ada makna special, selain saya harus menggembirakan diri saya sendiri, melalui semangat.

Kesunyian semakin terasa, ketika tidak ada seorang pun di kantor , tidak sedih, saya semakin mendalami syahdunya merayakan ulang tahun seoarng diri, bisa meReflash semua hal yang pernah terlewati, satu di antara nya, pribadi saya yang 3 tahun belakangan ini sering membuat orang tua terutama Ibu saya kecewa. Gagalnya saya menjadi Ibu yang baik untuk anak saya (read : menurut saya sih ya ), terlihat kerika saya selalu dan selalu kesusahan untuk memasak, jadi malu sama anak dan suami.

Melihat kekurangan saya belakangan ini, membuat saya berfikir, bahwa sepertinya tidak ada hal yang membanggakan dari diri saya untuk bisa saya perlihatkan pada Ibu dan suami saya.

Ibu, maafkan saya karena telah begtu sering menyinggung perasaanmu, karena telah begtu sering kasar dan mengucapkan kalimat kalimat yang menyakikti hati mu, maafkan saya yang telah meneteskan air matamu, maafkan saya karena begtu manja kepadamu, maafkan saya untuk tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu, maafkan saya karna terlalu perhitungan atas rezki yang Allah berikan kepadamu melalui aku anakmu, maafkan saya karena menjadi pribadi yang sangat tidak mandiri. Maafkan saya atas semua hal yang sering membuat mu Terluka..

Abi, Maafkan Umi karna terlalu sering tidak menghargai Abi, terlalu sering berlaku tidak sopan kepada suami, maafkan Umi untuk kekasaran ucapan yang pernah terlontar kepada Abi, maafkan Umi atas pesona wajah yang tidak tampil cantik didepan Abi, maafkan Umi belum bisa menyuguhkan masakan yang nikmat untuk Suami, maafkan Umi membiarkan Abi jauh dari Umi dan Zahran, maafkan Umi untuk seluruh tangis yang pernah tercurah, maafkan Umi atas rasa Galau ketika Abi jauh, Maafkan Umi untuk semua keraguan yang pernah ada.

‘Tidak ada hal yang paling bijak ketika hari lahirmu , selain memperbaiki diri’

Saya memang bukan manusia yang sempurna untuk bisa merubah hal buruk di diri saya menjadi baik secara Instan, mudah mudahan berkah ulang tahun hari ini, menjadikan pribadi saya lebih tangguh, lebih mandiri, dan bisa menjadi seorang anak, istri dan Ibu yang bisa di banggakan. Amin.

@Office at 12:04PM